Love in Asia-KBS world documentary programe

Salah satu tayangan dokumentari di KBS world yg gw suka adalah acara Love in Asia. Tayang setiap hari senin 10.30 wib atau siaran ulangnya selasa dini hari.

Acara ini isinya cerita tentang kehidupan pernikahan pasangan multikultural. Kebanyakan sih pasangan cowoknya dari Korea Selatan, trus pasangan ceweknya dari negara lain di luar Korsel. Tiap episode beda-beda pasangan yang diliput.

Nah, semalem gw liat siaran ulangnya. Kebetulan yang lagi dibahas adalah sebuah keluarga yang istrinya berasal dari Cilegon, Banten, Indonesia. Namanya Sugini (41 th). Pasangan suami istri berbeda bangsa ini sudah menikah selama kurang lebih 20 tahun. Menikahnya di Indonesia dan sempat tinggal di sini selama 10 tahun sebelum memutuskan pindah ke Korsel gara2 krisis ekonomi di Asia waktu itu. Mereka berdua dikarunia 3 orang anak. Kedua putri lahir di Indonesia. Yang sulung umur 19 th (umur Korea, umur asli 18) dan duduk di bangku akhir SMU. Sedangkan yang tengah 15 th, duduk di SMP. Putra bungsunya lahir di Korea, sekarang duduk di kelas 6 SD.

Suami istri ini sama-sama bekerja. Sugini sendiri bekerja sebagai tenaga ahli di sebuah pabrik semi konduktor. Dalam liputan dokumentari ini, dia digambarkan sebagai sosok ibu yang ulet dan rajin. Dia juga memperlakukan ayah mertuanya (satu2nya anggota keluarga dr pihak suami yg msh hidup) dengan baik. Dia rutin mengunjungi dan membersihkan rumah ayah mertuanya itu setiap bulan. Ayah mertuanya bangga memiliki seorang menantu spt dia.

Di rumahnya, Sugini berperan sebagai seorang ibu yang baik. Saat mendapat jatah bekerja tengah malam, dia menyiapkan terlebih dahulu sarapan untuk keluarganya sebelum berangkat kerja pada malam harinya.

Hampir sebulan sekali dia memasak makanan indonesia untuk keluarganya. Dan ternyata anggota keluarganya bisa menikmati makanan itu. Maklum, mereka pernah 10 tahun tinggal di Indonesia, jadi lidah mereka tidak asing dengan makanan Indonesia. Dia tidak bisa sering2 memasak masakan Indonesia karena ribet dan banyak bahan2 yg diperlukan yg susah didapat di Korea. Padahal, keluarganya suka makan makanan Indonesia. Di tayangan semalam, keluarga Sugini sedang makan soto ayam. Anggota keluarganya makan dengan antusias dan lahap. Gw yang ngliatnya jadi ngiler mau makan soto juga, padahal udah jam 1/2 2 pagi.

Di tengah-tengah rekan kerjanya, dia dikenal sebagai pribadi yang baik dan juga ramah. Dia udah bekerja di perusahaan semi konduktor ini selama 3 tahun.

Tapi, dibalik dirinya yang ulet dan rajin itu, dia punya luka lama yang terus disimpannya selama ini. Diam-diam dia merasa marah dan dendam pada ayah kandungnya yang telah menelantarkan dirinya dan adik laki-lakinya paska perceraian kedua orang tuanya. Sugini dan adiknya dibawa ayahnya, namun seperti tidak diurus dengan baik. Akhirnya, saat remaja, dia ditarik oleh pihak keluarga ibunya.

Nah, tim produksi acara ini membawa keluarga Sugini berkunjung ke Indonesia. Maksud kedatangannya ini, selain untuk bersilahturahmi dg anggota keluarga yang berada di tanah air, juga untuk berbaikan kembali dengan ayahnya.

Tengah malam rombongan mereka tiba di kediaman ibunya, di Cilegon. Rumah keluarganya ini besar dan luas. Isak tangis pecah saat rombongan keluarga Sugini ini tiba di depan rumah ibunya, yang mana mereka sudah menunggunya. Rombongan Sugini melepas kangen setelah 10 tahun tidak bertemu.

Putri tertuanya yang saat dibawa pergi ke Korea berumur 9 tahun, masih ingat dengan keluarga ibunya itu. Dia memeluk erat nenek dan bibi-bibinya sambil menangis haru. Mereka kemudian disuguhi bakso buatan sendiri. Keluarga Sugini tampak sangat menikmati sajian sederhana di tengah malam itu. Kedua putrinya yang memang sudah lama kangen ingin makan bakso, terbayar juga rasa ‘ngidam’ bakso mereka malam itu. Sang ayah dan putra bungsunya bahkan sampai nambah, sangking enaknya.

Esoknya, rombongan keluarga Sugini pergi menuju ke Klaten, Jawa Tengah, tempat kediaman ayahnya. Setelah bertahun-tahun meninggalkan desa itu, Sugini pangling. Dengan susah payah dia akhirnya menemukan rumah ayahnya. Lagi-lagi isak tangis pecah begitu rombongan Sugini itu tiba di rumah ayahnya.

Ayah Sugini ternyata mengidap penyakit dementia (pikun). Sugini berkali-kali memperkenalkan suami dan anak-anaknya kepada ayahnya itu. Rumah keluarga ayahnya besar dan khas rumah desa yang memiliki atap rendah dan tidak bersekat-sekat tembok di dalamnya.

Suami dan adik Sugini keesokan harinya mengecat ulang rumah itu agar terlihat lebih baik. Kegiatan ini dibantu oleh anak-anaknya. Sementara itu, Sugini membawa ayah dan ibu tirinya ke pusat kota untuk melakukan check up kesehatan terhadap ayahnya. Ayahnya diberi obat jalan. Setelah itu, Sugini membelikan pakaian untuk ayah dan ibu tirinya. Seumur-umur, inilah pertama kalinya dia membelikan baju untuk ayahnya itu.

Rombongan Sugini selama berada di Klaten, sempat mengunjungi beberapa objek wisata di sana. Objek wisata di kaki gunung Merapi, Borobudur, Prambanan, Yogjakarta (kerajinan perak n batik), melihat pertunjukkan musik angklung dan tari-tarian tradisional di jalanan, dll. Putri keduanya yang memang menggemari seni bahkan sempat berseloroh bahwa dia ingin kembali lagi ke Borobudur bersama suaminya di masa depan saat honeymoon.

Saat rombongan keluarga Sugini akan pamit pulang, isak tangis kembali pecah. Sugini dan ayahnya sudah saling memaafkan dan mengikhlaskan kejadian masa lalu diantara mereka. Sugini berpesan kepada ibu tirinya untuk menjaga ayahnya sebaik-baiknya. Mereka akan terus berkirim kabar. Sugini akhirnya bisa melanjutkan kehidupan bersama keluarganya di Korea dengan hati lebih ringan.

Hampir tiap episode yang tayang polanya seperti itu. Mengunjungi dan bersilahturahmi dengan keluarga istri yang berasal dari luar Korea yang jarang atau bahkan sudah lama tidak bertemu langsung. Kebetulan aja semalem temanya Indonesia. I love it!

Gw seneng liat tayangan ini karena memperlihatkan keragaman budaya yang saling menghormati dan mengisi satu sama lainnya. Suka duka pernikahan multikultural juga digambarkan di sini. Misalnya, bagaimana kesulitan yang dihadapi anak-anak yang berasal dari pernikahan campuran ini. Sentimen masyarakat di sekitar mereka tinggal. Perlakuan mertua terhadap istri yang berasal dari luar Korea, dll.

Dengan melihat dokumentari ini, gw jadi membuka mata n hati. Banyak hal positif yang bs gw ambil dari tayangan ini. Love in Asia, I love it ☺

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s