Go Ayano

image

Sebenarnya udah lama banget ane mau bahas soal aktor Jepang, Go Ayano tapi tertunda terus. Baru pada kesempatan ini ane bisa membahas dia. Pertama-tama, ane akan cerita bagaimana ane kesengsem dia. Jujur aja ane baru ngeh tentang Go Ayano sejak nonton drama Public Affairs Office in the Sky | Soratobu Kouhoushitsu (TBS / 2013) sebagai Daisuke Sorai. Yang jadi lawan mainnya dia di drama ini adalah aktris Yui Aragaki sebagai Rika Inaba.

image

Drama ini adalah drama pertamanya sebagai lead male dan juga mengantarkannya meraih Rookie of the Year di Japan Academy Prize barengan Ai Hatsumoto, Rena Nounen, Sota Fukushi, Higashide Masahiro dan Fumino Kimura. Mengenai cerita drama ini seperti apa, googling sendiri aja ya…

Sejak itu, ane mulai ngendus-ngendus dan melacak keberadaan aktor ini di drama and film. Listnya dia cukup panjang. Walau kebanyakan perannya dia cuma peran kecil. Tapi dengan referensi sepanjang itu membuktikan kalau dia bukan aktor karbitan karena bakat aktingnya sudah terasah dan tereksplorasi dengan seiring berjalannya waktu. Yang cukup meninggalkan kesan adalah saat ane lihat peran kecilnya di Rurouni Kenshin (2012) sebagai Gein. Bertarung memakai dua pedang pendek dengan gerakan super cepat melawan si Kenshin yang diperanin Sato Takeru. Walau kemunculannya singkat dan minim dialog tapi bener-bener membekas dalam ingatan ane.

Di film A Story of Yonosuke | Yokomichi Yonosuke (2013). Dia berperan sebagai Yosuke Kato, teman kuliahnya lead male yang diperanin Kengo Sora. Perannya di sini juga kecil dan hampir tidak terlihat beruntung karena dandanan anehnya di film ini, ane bisa menemukannya.

Lanjut ke film The Snow White Murder Case | Shiro Yuki Hime Satsujin Jiken (2014) sebagai sutradara acara TV, Yuji Akahoshi. Perannya di sini cukup menarik karena dia memainkan karakter yang dari awal sudah salah paham sama lead female yang dibawakan Inoue Mao. Penonton digiring untuk mempercayai penilaiannya dia yang sebenarnya salah. Jadinya ending film ini rada twist. Tapi cukup menghibur.

Di film yang baru ane lihat sebagian karena masih raw, Piece of Cake (2015). Berperan sebagai lead male bernama Kyoshiro Sugahara. Lawan mainnya di sini adalah aktris Mikako Tabe. Keduanya memainkan adegan berbau XXX. Yang menarik dalam film ini bukan karena adegan ranjangnya itu tapi kekuatan dari penghayatan karakternya. Walau sebagian besar ane ga ngerti dialog di film ini, ane terbantu dengan melihat akting para aktornya.

image

Pieces of Cake

Sebenernya, filmnya dia yang pernah ane lihat cukup banyak. Contohnya: Gatchaman (2013), I Have To Buy New Shoes | Atarashii Kutsu wo Kawanakucha (2012), Bunny Drop | Usagi Drop (2011), GANTZ (2011) dan GANTZ Perfect Answer (2011), Crows Zero 2 | Kurozu zero II (2009), Naoko (2008). Sayangnya saat itu ane belum menyadari eksistensinya. Maafkan ane ya Go-chan.

Kalau dorama, selain Public Affairs Office in the Sky, ane baru lihat S: The Last Policeman | S – Saigo no Keikan (TBS / 2014). Berperan sebagai polisi SWAT Jepang bernama Iori Soga. Lawan mainnya aktor Osamu Mukai.

image

Premier S - The Last Policeman live action

Yang bikin ane senang dengan drama ini selain ceritanya yang cukup menarik penyebab lainnya adalah karena Ayano ketemu lagi ama Yui Aragaki yang jadi pemeran tamu di 2 episode terakhir.

image

S - The Last Policeman

Sejak main drama berdua di Public Affair, ane suka banget pairing mereka… sampe rada nyiperin walau ga mungkin sebenarnya karena si Yui digosipin pacaran lama ama Ryo Nishikido sejak mereka main di Zenkai Garu. Sedangkan si Ayano sendiri sejak putus dari Erika Toda sering digosipin ama lawan mainnya yang lain. Emang kayak playboy cap botol jin kayaknya si Ayano ini, hahaha… Oh ya, satu lagi yang bikin ane suka drama ini karena Jo Odagiri (salah satu aktor Jepang favorit ane) ikut main di sini sebagai tokoh antagonisnya. Double bonus ngeliat kharismanya si Jo jadi orang jahat  yang kena banget. Drama S ini juga dilanjutkan ke versi layar lebarnya dengan pemain yang sama. Ane belum sempet nonton, sengaja nunggu english subtitel-nya keluar. Hahaha…

Yang bikin ane penasaran adalah film dia berjudul The Light Shines Only There (Soko nomi nite Hikari Kagayaku) main sama aktris watak Chizuru Ikewaki.

image

Film ini mengantarkan Ayano sebagai aktor terbaik di festival film Yokohama 2015. Sutradara film ini juga menang di festival yang sama. Juga pemeran lainnya. Bahkan menang di festival film Montreal 2014 sebagai sutradara terbaik.

image

Yang ane suka dari dia adalah caranya membawakan sebuah karakter di film atau drama, mau peran besar atau cuma numpang lewat doang, semua itu dilakukannya dengan serius sehingga peran itu nancep di memori penonton. Kalau dilihat dari cakep atau ga, itu relatif sih ya. Tapi ane ga pernah nganggep kalau dia itu ganteng karena tipe wajahnya juga bukan tipe wajah flower boy tapi tipe wajah yang cowo banget. Pokoknya kesan ane ke dia itu, LAKI BANGET. Enough said! โ™ก
Di kehidupan pribadinya, Go-chan diketahui publik berteman dekat dengan Takayuki Yamada dan Shun Oguri, yang berhubung mereka satu agensi wajarlah ya jadi dekat ๏Š

Iklan

Six Flying Dragons

image

Sebenarnya ane bukan penikmat kdrama saeguk. Track record ane kalau mau di hitung dari awal, cuma beberapa drama saeguk aja yang udah ane tonton sampai tuntas. Salah satunya Six Flying Dragons dengan jumlah 50 episode.
Nah tahu kan kenapa ane rada males nonton saeguk? Karena rata-rata saeguk itu jumlah episodenya puanjaaaang… jadinya butuh dedikasi tinggi untuk menyelesaikan drama ini dari awal sampai akhir.
Sekali pun yang main aktor kesukaan ane, untuk mengikuti drama saeguk sampai tuntas membutuhkan kerja keras dan waktu yang ga sedikit. Karena itulah ane jarang banget lihat saeguk kecuali dengan kondisi tertentu. Pengecualian dari itu semua, ane menikmati drama ini.
image

Yang bikin mula-mula ane melirik drama ini adalah karena salah satu aktor watak kesukaan ane main di sini yakni Kim Kyung Min. Trus ada juga aktor muda berbakat Yoo Ah In (yang nanti akan ane bahas sendiri di kesempatan lain).
Memang pada awalnya ane melirik drama ini karena aktor pemerannya namun seiring berlalunya waktu ane jatuh cinta sama jalan ceritanya. Drama ini secara garis besar menceritakan soal awal mula pendirian dinasti kerajaan Joseon. Untuk lebih jelasnya silakan bertanya ke wikipedia ya… karena ane ga akan bahas soal isi cerita drama ini di sini.
Selain jalan cerita yang menjadi kekuatan drama ini, penghayatan akting para aktornya juga bagus banget. Ga cuma pemeran utamanya aja yang bagus, pemeran pendukungnya juga ga main-main dalam membawakan karakter tokohnya. Kekuatan drama ini bersinergi menjadi satu, jalan cerita, karakteristik penokohan, sinematografi, dan ost-nya membuat drama ini sebagai salah satu drama saeguk berkualitas.

Ane jadi pengen ketemu setiap orang yang terlibat dalam pembuatan drama ini. Pengen bilang dan nepuk bahu mereka satu-satu; Well done! Kalian udah bekerja keras sehingga ane dan penonton lainnya bisa melihat sebuah karya drama berkualitas seperti Six Flying Dragons ini. Terima kasih, karena drama ini ane dapat banyak hal positif yang bisa dipetik. Kira-kira seperti itu ๐Ÿ™‚

Sakaguchi Kentaro, My Little Secret

cdr0aq0xeaemxlb.jpg
Sakaguchi Kentaro

Dorama is never die. Mungkin itu kata-kata yang cocok menggambarkan betapa ane lebih menyukai nonton dorama ketimbang yang lainnya. Meskipun digempur oleh godaan rumput tetangga, eh… maksudnya kdrama dan saudara setanah-air, ane tetap menyediakan waktu senggang… uhuk… setiap saat… uhuk… untuk nonton dorama. Ga perlu banyak alasan kan kenapa ane lebih suka dorama dibandingkan yang lain. Soalnya kalau terlanjur cinta, alasan cuma jadi rangkaian kata-kata aja. Iya toh?

Berhubung udah lama ane ga kecebur lagi dalam dunia kata-kata, untuk merayakan momen ini ane akan menulis tentang sesuatu yang ane sukai akhir-akhir ini. Di atas udah disinggung soal dorama. Tapi ane bukannya mau membahas secara khusus dorama tertentu, melainkan seorang aktor muda kelahiran 11 Juli 1991 ini menurut ane punya masa depan cerah secerah matahari terbit setiap pagi, yaitu Sakaguchi Kentaro.

cdqxdcuueaablvq.jpg

Sakaguchi Kentaro

Who? Dare? Sopo iku yo? Well, kalau you baru pertama kali ini dengar namanya, lihat mukanya, sesungguhnya ane ga akan menyalahkan you karena memang si akang SakaKen ini newbie di dunia layar perak dan layar tabung (jiaaah… jadul amat istilah ane). Wajah kawaii-nya baru sekitar 2-3 tahun ini wara-wiri di film dan drama.

Dia emang termasuk salah satu aktor pendatang baru jadi wajar masih banyak orang yang ga ngeh dia. Tapi coba deh buka-buka majalah mode cowok terkenal Jepang, khususnya Men’s Non No, niscaya wajah SakaKen ini tampil hampir di setiap halaman or edisi. Yup! Dia emang mengawali kariernya mula-mula di dunia modelling.

cdib5klusaaygda.jpg

Sakaguchi Kentaro

Ane akan menjelaskan sedikit riwayat perkenalan ane mula-mula sama dia (sok kenal banget kesannya). Jujur aja ane baru kenal dia pertengahan tahun kemarin. Gara-gara lihat trailer Heroine Shikkaku. Mengenai bagaimana cerita film yang diadaptasi dari manga ini, silakan berkunjung ke mbah google.
Jujur aja belum banyak film atau drama dia yang ane lihat. Kalau drama baru lihat Love That Makes You Cry | Itsuka Kono Koi wo Omoidashite Kitto Naite Shimau (Fuji TV / 2016) sebagai Haruta Nakajo. Bukan peran utama tapi karakter yang dia mainkan di drama ini cukup menonjol, karena setia mencintai sampai akhir cewe yang terlanjur jatuh cinta sama lead male-nya.
Film ane baru lihat No Longer Heroine | Heroine Shikkaku (2015) sebagai 2nd lead male, Kosuke Hiromitsu. Klepek-klepeknya gara-gara film ini. Karakternya khas manga shoujo, tipe cowo keren populer yang belum benar-benar jatuh cinta sampai ketemu ama lead female-nya.
image

Dan menurut ane, perannya dia di film ini lebih ‘kena’ ke penonton daripada lead male-nya (maaf ya Yamazaki Kento). Setidaknya itu yang ane rasakan setelah nonton film ini. Senyumnya terutama yang bikin mata ane blink-blink.
image
Siapa yang tahan sama senyum 10 juta watt-nya ini???

Walau belum banyak film dan drama dia yang ane lihat, tapi dilihat dari list film dan dramanya termasuk yang berbobot. Bisa dibilang dia termasuk beruntung atau cukup pintar memilih project film dan drama dia. Dengan kata lain ga asal ambil peran atau aji mumpung. Contoh di film At Home (2015). Perannya sebagai Jun Moriyama, salah satu anak dari lead male yang dimainkan oleh salah satu aktor Jepang favorit ane sepanjang masa, Takenouchi Yutaka. Di film Our Little Sister | Umimachi Diary (2015) berperan sebagai kekasih salah satu lead female yang diperankan Nagazawa Masami. Film ini ikut berkompetisi dan para pemain utamanya sempat datang ke festival film Cannes 2015. Walau sebagian besar peran yang diambilnya itu bukan peran yang cukup penting tapi keberadaannya sanggup membekas di hati penonton.
SakaKen akhirnya mendapat kesempatan sebagai lead male di film Kimi to 100 Kaime no Koi (2017) sebagai Riku Hasegawa. Ane akan tunggu bagaimana perkembangan aktingnya!

BTW, beberapa orang menganggap SakaKen secara visual mirip aktor Korea Seo Kang Jun. Ane pribadi ga rela dia disamain ama SKJ.

Ken’ichi Matsuyama

Kali ini ane mau cerita salah satu aktor jepang favorit, Ken’ichi Matsuyama aka Matsu-Ken. Aktor muda kelahiran Mutsu, Aomori 05.03.1985 bisa dibilang bukan sembarang aktor. Lihat aja track records dia, dan bandingin antara satu karakter ke karakter yang lain. Buat viewers yang terbiasa melihat karya-karyanya pasti sepakat bilang kalau Matsu-Ken ini termasuk aktor berbakat.

Kenapa disebut aktor berbakat? Well, seorang aktor yang berhasil dalam berperan adalah saat dia bisa membawakan tiap karakter yang dimainkannya dengan baik sehingga meninggalkan ‘sesuatu’ atau impact tertentu pada viewers. Nah, Matsu-Ken termasuk jenis aktor seperti yang disebut di atas. Entah karena keberuntungan atau karena sikap smart-nya dalam memilih project dan karakter yang akan dimainkan, hampir semua karya dia bisa dikatakan berhasil dan kebanyakan karakter yang pernah dia mainkan itu termasuk kategori karakter nyentrik dan unik. Matsu-Ken dikenal tidak takut memilih dan memainkan karakter yang tidak biasa.

Berikut beberapa karakter yang pernah dimainkan olehnya.
Sebagai contoh, sosok L, seorang detektif jenius yang memiliki kebiasaan memakan makanan serba manis begitu melekat di ingatan bagi siapa saja yang pernah menonton film Death Note dan sekuelnya.

Di film Detroit Metal City, Matsu-Ken menjadi seorang vokalis band hard metal rock dengan make up tebal yang terlihat garang di panggung saat menyanyi lagu-lagu rock cadas tapi sebenarnya adalah pemuda kuper dan pemalu yang kesulitan mengungkapkan rasa cinta pada gadis yang ditaksirnya.

Di GANTZ dan sekuelnya, Matsu-Ken menjadi seorang kakak yang rela melakukan apapun demi melindungi adik laki-lakinya dan terjebak di antara dunia nyata dan dunia GANTZ.

Di film Bunny Drop/Usagi Drop, Matsu-Ken menjadi seorang pekerja kantoran yang memilih membesarkan anak haram kakeknya yang masih berusia 6 tahun yang tidak lain adalah bibinya sendiri. Siapa yang bisa menduga kalau chemistry Matsu-Ken dan aktris cilik berbakat Ashida Mana dalam film ini begitu kompak dan manis?

Di film Don’t Laugh at my Romance, Matsu-Ken menjadi seorang mahasiswa yang menjalin cinta rahasia dengan dosen perempuan yang jauh lebih tua darinya dan tidak peduli dengan anggapan orang lain terhadap dirinya.

Di film Memoirs of a Teenage Amnesiac, Matsu-Ken menjelma menjadi seorang pelajar SMU internasional yang memiliki masalah kejiwaan dan kesulitan dalam pergaulan sosialnya.

Di film Kamui Gaiden, Matsu-Ken berubah menjadi ninja terbuang dari koloninya dan berjuang melindungi sebuah pulau beserta isinya.

Di film Kaiji, Matsu-Ken menjadi seorang pejudi yang terjebak dalam dunia hitam perdagangan manusia bawah tanah dan menjalin persahabatan antara sesama korban.

Di film Linda Linda Linda, Matsu-Ken menjadi seorang pelajar SMU yang menyatakan cinta pada pelajar pertukaran dari korea yang diperankan oleh Bae Doo Na yang merupakan vokalis band pada festival budaya di sekolah.

Di film NANA, Matsu-Ken menjadi seorang pemetik bass dengan tubuh penuh tindikan yang pemalu dan tidak banyak bicara.

Di film Shindo, Matsu-Ken menjadi seorang mahasiswa musik yang menjalin persahabatan dengan gadis remaja yang jenius dalam musik khususnya piano dan terlibat dalam pertualangan mencari piano tua si gadis yang hilang.

Di film The Blue Wolf: To the Ends of the Earth and Sea, Matsu-Ken menjadi putra mahkota Jengis Khan yang bernasib malang.

Di film Yamato, Matsu-Ken menjadi seorang pelajar muda yang mendaftar sebagai tentara dan digembleng di kapal perang Yamato pada PD II.

Di film Worst by Chance, Matsu-Ken menjadi salah satu mahasiswa yang selamat setelah terperangkap di sebuah rumah berisi pembunuh sakit jiwa yang menuntut balas.

Salah satu dorama yang dibintangi Matsu-Ken yang paling berkesan buat ane adalah Zeni Geba (NTV / 2009). Well, human drama dengan tema berat selalu menarik untuk diikuti kisahnya. Karakternya di sini cukup kompleks kalau tidak mau dibilang memiliki kepribadian ganda yang rumit. Dorama yang mengantarkannya sebagai best actor ini layak jadi tontonan wajib buat dorama-lovers ๐Ÿ™‚

Selain ane suka dengan karya-karya Matsu-Ken ane juga suka ama cerita kehidupan pribadinya yang cukup stabil dan ga neko-neko. Matsu-Ken menikahi aktris cantik Koyuki Kato yang lebih tua 9 tahun darinya pada tahun 2011 setelah berpacaran sekitar 2 tahun lebih setelah keduanya bermain bersama dalam film Kamui Gaiden dan awal Januari 2013 pasangan ini dikarunia anak kedua setelah Januari tahun sebelumnya mereka dikarunia seorang putra. Wow~kejar setoran kayaknya, hahaha……

Happy family man and tallented actor ๐Ÿ˜€

Posted with WordPress for BlackBerry.

KangChi, The Beginning aka Gu Family Book (bagian awal)

Terus terang ane baru cari tahu soal SW Kang Eun Kyung karena ada hubungannya dengan drama terbaru Lee Seung Gi yang akan tayang awal musim semi ini, Kang Chi, The Beginning aka Gu Family Book (GFB) atau Guga Medical Book (GMB) aka Gu Family Secret (GFS) yang kebetulan jadi salah satu karyanya dia. Dan begitu ane cari tahu soal dia, ane sedikit kaget dengan list karya-karyanya karena hampir sebagian besar karyanya udah ane pernah tonton, malah ada yang termasuk dalam list drakor favorit ane ^^”

Seingat ane, karyanya dia yang pertama kalinya ane lihat adalah Hotelier (MBC, 2001). Well, Hotelier akan selalu menjadi salah satu drakor favorit ane sepanjang masa. Kalo kebanyakan orang-orang tergila-gila dengan Bae Yong Jun karena Winter Sonata, khususnya fans Yong-sama di Jepang, ane justru jatuh cinta dengan BYJ gara-gara Hotelier. Tokoh Frank Shin akan selalu terkenang sebagai karakter seorang gentleman ganteng, ditambah dengan kisah cintanya dengan Suh Jin Young yang diperankan dengan sangat baik oleh aktris cantik Song Yoon Ah, bikin yang nonton jadi ikut geregetan, hehehe~
Song Hye Kyo juga ikut bermain dalam drama ini dan menurut ane pribadi, ane lebih suka melihat aktingnya di drama Hotelier ini dibanding saat SHK di Endless Love.

Drakor kedua karya Mrs Kang yang ane lihat adalah Glass Slippers (SBS, 2002). Melodrama yang bikin sesak napas dan banjir air mata saat nonton drakor ini. Kisah mengharu-biru dua orang saudara perempuan yang menjalani takdir berbeda. Well, duet akting antara aktris Kim Hyun Ju (Kim Yun Hee / Lee Sun Woo) dan Kim Ji Ho (Kim Tae Hee) berhasil menguras air mata. Aktor So Ji Sub ikut berperan di drakor ini dan sayangnya kisah cintanya dengan tokoh Kim Tae Hee berakhir tragis T.T

Yang berikutnya, ane lihat Dal Ja’s Spring (KBS2, 2007). Drakor ini juga termasuk dalam list drakor favorit ane sepanjang masa. Kalo sebagian orang suka drama romantis-komedi, Dal Ja’s Spring akan menjadi top list versi ane sampai detik ini, posisinya di atas Secret Garden (SBS, 2010) yang (mungkin) banyak dipilih orang sebagai drakor rom-com terbaik, don’t kill me people, hehehe~
Duet akting antara Chae Rim (Oh Dal Ja) dan Lee Min Ki (Kim Tae Bong) yang berpasangan sebagai kekasih yang berbeda usia 7 tahun, sungguh lucu, masuk akal dan memikat.

Selanjutnya Powerful Opponents (KBS2, 2008). Chae Rim kembali menjadi lead female di dalam drama ini. Kalo mau jujur, dari beberapa drakor karya Mrs Kang yang ane pernah tonton, drakor Powerful Opponents ini yang paling mengecewakan karena ane ga berhasil ngerti jalan ceritanya akan dibawa kemana alias menurut ane drakor ini ceritanya ngawur ^^”
Apa hubungannya keluarga presiden dengan tari tango?

King of Baking, Kim Tak Goo (KBS2, 2010) drakor berikutnya karya Mrs Kang yang udah ane lihat. Lupakan soal monster rating yang melejit tinggi, ane hanya akan bahas soal ceritanya di sini. Klise, khas makjang drakor tapi dikemas dengan sangat baik dan tepat sasaran sehingga buat orang yang mengikuti drakor ini menjadi penasaran ingin tahu kelanjutan tiap episodenya. Good job for SW.
Terbantu juga dengan penampilan akting dari para aktor-aktris berbakat yang meyakinkan viewers sehingga membuat drakor ini layak ditunggu.

Selanjutnya adalah Man of Honor/Glory Jane. (KBS2, 2011). Kembali lagi mengangkat kisah drakor klise, mengenai anak yang terpisah dari orang tua kandungnya dan dibesarkan di tempat lain, baru saat dewasa si tokoh Jane tahu mengetahui asal-usul dirinya yang sebenarnya. Akting Chung Jung Myun di drakor ini menurut ane pribadi tidak bisa dibilang brilian seperti saat dia bermain di drakor Cinderella’s Eonni. Begitu pun dengan Park Min Young sebagai tokoh Jane, tidak sebagus saat dia berperan di drakor Sungkyunkwan Scandal. Hanya akting aktor pendatang baru Lee Jang Woo yang menurut ane cukup lumayan.

Mengenai Kang Chi The Beginning, ane tidak akan memasang harapan tinggi soal adanya hal baru dalam cerita inti drama ini melihat bagaimana cara kerja dan hasil karya SW Mrs Kang selama ini. Apalagi ane sudah membaca bocoran sebagian kecil akan seperti apa cerita KCTB/GFB nantinya. Kesan klise itu yang pertama kali terbayang di otak ane saat membaca sepengal bocoran cerita KCTB/GFB.

KCTB/GFB akan menjadi karya saeguk pertama Mrs Kang dan kerjasamanya bersama PD Shin Woo Chul yang biasanya bekerjasama dengan SW Kim Eun Seok.
Ngomong-ngomong soal PD Shin Woo Chul, hampir sebagian besar karyanya ane sudah lihat dan sebagian menjadi drakor favorit ane ๐Ÿ™‚

Mulai dari Lover in Paris (SBS, 2004). Drakor ini sampai sekarang masih melekat di ingatan ane dan juga menjadi salah satu drakor klasik favorit karena untuk pertama kalinya ane mengakui Lee Dong Gun dan Park Shin Yang yang berperan di drama ini ganteng dan endingnya yang bikin gigit jari, hahaha~
Kalo mau tahu apa yang bikin gigit jari, silahkan nonton drakor ini sampai selesai dan semoga setelahnya layar tv/pc anda tidak rusak karena terlempar barang oleh anda yang merasa gemas, kekeke~

Lovers (SBS, 2006) tidak selesai ane tonton dan sampai sekarang tidak ada keinginan untuk nonton ulang. Habis perkara! Lols ๐Ÿ˜€

Berikutnya On Air (SBS, 2008). Drakor yang bercerita tentang seluk-beluk produksi drama. Sebuah tema yang tidak biasa pada saat itu didukung oleh deretan akting memukau para aktor-aktrisnya (Kim Ha Neul, Song Yoon Ah, Lee Bom Soo, Park Yong Ha) menjadikan drama ini cukup menarik untuk diikuti.

City Hall (SBS, 2009) bercerita soal politik yang dibalut komedi dan kisah cinta. Duet akting Cha Seung Woo dan Kim Sun Ah tidak akan membuang percuma waktu yang anda habiskan menonton drakor ini. Sangat menarik.

Yang berikutnya Secret Garden (SBS, 2010). Well, siapa yang belum pernah nonton drakor ini? Mungkin hanya sedikit yang angkat tangan jika ditanya begitu, hehehe~
No comment-lah soal drakor ini karena ane yakin banyak orang yang sudah mengupas tuntas soal drama satu ini.

A Gentleman’s Dignity (SBS, 2012), jujur aja ane ga selesai nonton drakor satu ini. Tema cerita seperti ‘sex in the city’ versi 4 pria berumur ga berhasil membuat ane tetap menikmati drama ini sampai selesai. Oh, don’t kill me people :p

Kembali ke soal KCTB/Gu Family Book. Jujur aja ane punya sedikit kekhawatiran dengan kerjasama duet PD Shin dan SW Kang ini. Seperti yang ane bilang di atas, ane ga berani berekspektasi tinggi bahwa tipe cerita KCTB/GBF akan berbeda dengan hasil karya SW Kang lainnya yang sudah-sudah. KCTB/GFB memang sebuah drama saeguk, yang pastinya akan sangat berbeda setting dengan drakor karya PD Shin dan SW Kang sebelumnya karena ini adalah drama saeguk pertama mereka.

Yang menjadi titik cerah buat ane mungkin jika melihat cara kerja PD Shin. Terus terang, sinematografi karya PD Shin bukanlah yang terbaik menurut ane tapi tidak bisa dibilang jelek juga.
Adegan saeguk yang bagus yang pernah dibuatnya mungkin saat di Secret Garden, menggambarkan saat tokoh Gil Ra Im (Ha Ji Won) sedang berakting laga meniru adegan dalam drakor Damo yang kebetulan di dunia nyata pernah dimainkannya juga. Damo yang asli adalah buah karya PD Lee Jae Kyung yang menurut ane adalah PD dengan kemampuan sinematografi terbaik saat ini (merunjuk juga pada drakor Fashion’s 70, Beethoven’s Virus, The King 2 Hearts).
Jika PD Shin konsisten mengusung cara kerjanya saat mengambil adegan saeguk di Sega seperti itu, ane jadi punya optimisme drama KCTB/GFB akan berkualitas, minimal dilihat dari sisi sinematografinya.

Yang mungkin menjadi harapan ane juga adalah kualitas akting dari para aktor-aktris yang ikut terlibat dalam drama KCTB/GFB ini. Semoga mereka bisa membawakan karakter yang diembannya dengan baik, khususnya Lee Seung Gi yang menjadi lead male drama ini bisa memberikan kemampuan akting terbaiknya sama atau bahkan lebih baik dari aktingnya sebagai Lee Jae Ha di The King 2 Hearts. Semoga!!!

Berikut adalah sedikit informasi mengenai SW Kang Eun Kyung (sc: dramawiki).

Name: ๊ฐ•์€๊ฒฝ / Kang Eun Kyung (Gang Eun Gyeong)
Profession: Screenwriter
Birthdate 1971-Jul-25

TV Shows :

Man of Honor (KBS2, 2011)
King of Baking, Kim Tak Goo (KBS2, 2010)
Powerful Opponents (KBS2, 2008)
Dal Ja’s Spring (KBS2, 2007)
Hello, God (KBS2, 2006)
Oh! Pil Seung And Bong Soon Young (KBS2, 2004)
Good Person (MBC, 2003)
Glass Slippers (SBS, 2002)
Hotelier (MBC, 2001)
Third Coincidence (MBC, 2001)
Ghost (SBS, 1999)
White Night 3.98 (SBS, 1998)

Recognitions :

2010 KBS Drama Awards: Writer Award (King of Baking, Kim Tak Goo)

Trivia :

Education: University of California Irvine (Broadcasting major)

Berikut sedikit informasi soal PD Shin Woo Chul (sc: dramawiki).

Name: ์‹ ์šฐ์ฒ  / Shin Woo-chul (Sin Wu-cheol)
Profession: Director

TV Shows as a Director :

A Gentleman’s Dignity (SBS, 2012)
Secret Garden (SBS, 2010)
City Hall (SBS, 2009)
On Air (SBS, 2008)
Lovers (SBS, 2006)
Lovers in Prague (SBS, 2005)
Lovers in Paris (SBS, 2004)

Achievements :

2011 6th Seoul International Drama Awards: Hallyu Drama Director Award (Secret Garden)
2009 45th Baeksang Arts Awards: PD Award (On Air)
2005 41st Baeksang Arts Awards: Best TV Drama Award (Lovers in Paris)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Dorama – Kitagawa Eriko

Ada yang kenal dengan screenwriter Kitagawa Eriko? Orang umum bisa dimaklumi kalo ga kenal dia. Pecinta dorama kenal dia? Kalo sampai dorama-lovers ga tahu siapa dia, waaah~patut dipertanyakan ke’aslian’ dorama-loversnya, hahaha……

Masih ga kenal juga? Well, bagaimana kalo ane sebutin list dorama karya-karyanya? Tahu dorama jadul Asunaro Hakusho (Fuji TV, 1993) atau yang dikenal di sini dengan judul Ordinary People? Dorama ini punya tempat spesial di hati ane waktu pertama kali nonton di tv lokal dan masih membekas sampai sekarang. Ostnya True Love yang dinyanyiin Fuji Fumiya, salah satu ost drama favorit ane.
Pertama kalinya lihat akting Kimura Takuya dan Tsutsui Michitaka yang masih unyu, lols. Tokoh Tamotsu Kakei yang diperankan Tsutsui bikin ane klepek-klepek, nyadar untuk pertama kalinya kalo cowok Jepang itu ada yang cakep, hahaha~
Sebenarnya, tema cerita drama ini biasa-biasa aja dan umum ditemui dalam hidup, menitikberatkan pada persahabatan 5 orang mahasiswa di dalam sebuah kampus yang dibumbui kisah cinta di antara mereka. Yang menarik menurut ane (mungkin) adalah alurnya. SWnya alias Kitagawa Eriko berhasil membangun alur cerita yang ringkas, padat dan tepat sasaran. Jujur aja, sampai sekarang ane masih ingat bagaimana jalan cerita drama ini walau udah lama banget nonton. Dorama ini punya kenangan tersendiri buat ane, dan jangan heran kalo ane berusaha nyari copy-an dorama jadul ini buat dilihat lagi (susahnya minta ampun), dan untungnya ane dapet *nyengirlebarbahagia*

Masih ga tahu juga Asunaro Hakusho aka Ordinary People atau soal Kitagawa Eriko? Bagaimana dengan dorama Long Vocation (Fuji TV, 1996) ? Siapa yang masih ingat kisah cinta manis Hayama Minami dan Hidetoshi Sena? Atau siapa yang masih hafal lirik lagu ost dorama ini, La La La La Love Song by Toshinobu Kubota feat Naomi Cambell?
Dorama ini yang bikin ane jatuh cinta lebih dalam lagi ama Kimutaku alias Kimura Takuya dan Yutaka Takenouchi yang kakoi abiz ๐Ÿ˜€
SWnya pintar membangun alur sehingga buat yang nonton ga ada rasa bosan, malah nagih dan membekas di hati. Sama seperti Ordinary People, Long Vocation adalah dorama spesial buat ane.

Setelah dua dorama di atas, masih belum kenal juga kah dengan Kitagawa Eriko atau pun karya-karyanya? Kalo ane sebut dorama menyayat hati Beautiful Life (TBS, 2000) ada yang ingat? Siapa yang nangis mewek nonton drama ini? *tunjuktangansendiri* Siapa yang jadi sedih waktu dengar ost drama ini, Konya Tsuki no Mieru oka ni yang dinyanyiin B’Z? *tunjuktanganlagi* Siapa yang ga bisa lupa bittersweet love story antara Okishima Shuji (Kimura Takuya) dan Machida Kyoko (Takako Tokiwa)? *angkatduatangan* dan siapa yang ga bosen re-run dorama klasik ini? *angkatduatanganlagi* hehehe~
Gara-gara dorama ini, ane cinta mati ama aktingnya Kimutaku, dan jadi fans berat Takako Tokiwa, lols

Masih ga tahu juga? Well….well….ke-3 dorama yang ane sebut di atas emang tergolong dorama jadul apalagi buat ukuran orang yang lahir di tahun ’90an ke atas. Tapi bukan soal jadul/ga yang penting, pointnya adalah ke-3 dorama di atas adalah sebagian kecil dari dorama klasik yang ‘wajib’ dilihat oleh dorama-lovers, entah salah satu atau justru ke-3nya untuk mendefinisikan dan menasbihkan makna ‘dorama-lovers’ sesungguhnya :p
Yakin deh, kalo udah pernah nonton salah satu atau justru ke-3nya pasti langsung jatuh cinta ama dunia dorama *pengalamanpribadi* hehehe~

Ok, masih dimaklumi kalo ga kenal Kitagawa Eriko atau pun ke-3 karya lamanya di atas, tapi bagaimana dengan dorama Orange Days (TBS, 2004) ? Tema cerita dorama ini agak mirip dengan Ordinary People, mengangkat kisah persahabatan dan cinta 5 orang mahasiswa dalam satu kampus. Asiknya setelah nonton dorama ini ane jadi familiar ama beberapa gerakan bahasa isyarat. Dorama ini yang mengenalkan ane untuk pertama kalinya dengan akting Tsumabuki Satoshi, Shibasaki Kou dan my love Eita ๐Ÿ˜€ Ostnya yang dinyanyiin Mr Children, Sign, bikin ane jadi fans mereka.

Orange Days masih dianggap dorama jadul? Well, bagaimana dengan Sunao ni Narenakute / Hard to Say That I Love You (Fuji TV, 2010) ? Kisah cinta 5 orang dewasa yang bersahabat gara-gara twitter. Reuni akting Eita dan Ueno Juri setelah Last Friends dipertemukan kembali lewat dorama sweet ini. Ini juga dorama pertama yang dibintangi Kim JaeJoong/Hero, salah satu vokalis boyband DBSK/TVXQ/Tohoshinki (eks) dan JYJ (now) dan mengantarkannya meraih Best Supporting Actor di 14th Nikkan Sports Drama Grand Prix (Spring 2010).
Hero JaeJoong juga membintangi Postman to Heaven (SBS, 2010) berpasangan dengan Han Hyo Joo. Sama seperti yang sudah-sudah, Postman to Heaven juga salah satu karya Kitagawa Eriko.

Berikut informasi singkat soal Kitagawa Eriko (sc: dramawiki)

Name: ๅŒ—ๅทๆ‚ฆๅๅญ
Name (romaji): Kitagawa Eriko
Profession: Writer
Birthdate: 1961-Dec-24
Birthplace: Minokamo, Gibu prefecture

TV Shows:

Okaasan no Saigo no Ichinichi (ใŠๆฏใ•ใ‚“ใฎๆœ€ๅพŒใฎไธ€ๆ—ฅ) (TV Asahi, 2010)
Postman to Heaven (SBS, 2010)
Sunao ni Narenakute (Fuji TV, 2010)
Tatta Hitotsu no Koi (NTV, 2006)
Orange Days (TBS, 2004)
Sora Kara Furu Ichioku no Hoshi (Fuji TV, 2002)
Love Story (TBS, 2001)
Beautiful Life (TBS, 2000)
Over Time (Fuji TV, 1999)
Saigo no Koi (TBS, 1997)
Long Vacation (Fuji TV, 1996)
Aishiteiru to Ittekure (TBS, 1995)
Kimi to Ita Natsu (Fuji TV, 1994)
Asunaro Hakusho (Fuji TV, 1993)
Sono Toki, Heart wa Nusumareta (Fuji TV, 1992)
Sugao no Mama de (Fuji TV, 1992)

Recognitions:

41st Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter: Orange Days
33rd Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter: Sora Kara Furu Ichioku no Hoshi
24th Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter: Beautiful Life
9th Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter: Long Vacation
6th Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter: Aishiteiru to itte kure

Setahu ane, Tsutsui Michitaka main di 2 dorama karya Kitagawa-san sebagai lead male, Asunaro Hakusho (Fuji TV, 1993) dan Kimi to Ita Natsu (Fuji TV, 1994).
Lain lagi dengan Kimura Takuya. Dia punya track records sering main di dorama karya Kitagawa-san, baik sebagai lead male atau pun second male. Di antaranya : Sono Toki, Heart wa Nusumareta (Fuji TV, 1992), Asunaro Hakusho (Fuji TV, 1993), Long Vocation (Fuji TV, 1996), Beautiful Life (TBS, 2000), dan Sora Kara Furu Ichioku no Hoshi (Fuji TV, 2002).

Satu ciri khas yang selalu ane temukan di dalam dorama karya Kitagawa-sensei adalah tema ‘young and fresh’ baik mengangkat kisah antara orang-orang muda atau pun hal-hal yang update pada masanya.
Sudah bisa diduga, Kitagawa Eriko adalah salah satu SW dorama favorit ane, hehehe~

Posted with WordPress for BlackBerry.

TK2H : Lee Seung Gi – Ha Ji Won

#randomthing
Tiga hari yang lalu mimpi Seunggi-Wonnie. Seunggi megang payung putih polos dan di sampingnya Wonnie. Keduanya pakai baju hitam dan tersenyum.

Asli ga ngerti maksud mimpi ini ^^โ€œ

Change the topic! How talk about MBC drama award 2012?
Seem like a big joke, huuh? lols.
Rise your hands if you has agree with me!!!

Posted with WordPress for BlackBerry.

The King 2 Hearts: My a Little Heaven

Hi, I’m back!

Serasa punya hutang yang belum terbayar karena udah lama ga nulis sesuatu di sini, kekeke~
Ane akan jelasin alasannya kenapa udah lama ga main-main ke sini lagi.

1) Ga ada waktu untuk nulis. Atau lebih tepatnya, males *getok jidat sendiri* XD. Fokus ane teralihkan ke hal lain, jadi urusan ngurus blog ini agak terabaikan #ngeles.
2) Ga tahu mau nulis apa. Padahal di luar sana banyak hal-hal menarik yang bisa diobrolin di sini tapi entah kenapa ga bisa menggugah hati ane untuk bahas di sini.
3) Karena fokus ane belakangan ini hanya berpusat pada Lee Seunggi, Ha Jiwon dan TK2H dan berputar pada ke-3 hal itu aja *sigh*

Belum pernah ada drama korea yang bisa membuat ane menghela napas berkali-kali sampai ane liat TK2H. Dan hal itu berlanjut pasca selesai nonton dramanya. Atau dengan kata lain, efek/pengaruh drama ini terlalu besar dan sulit untuk ane atasi sendirian. Dan ane ga heran kalau apa yang ane rasain ini terjadi juga pada hearties yang lain *sigh*.

Salahkan drama TK2H karena terlalu AWESOME to the Max!!!!!

Dan akibat yang ditimbulkan drama ini, untuk pertama kalinya dalam hidup ane, ane menjadi seorang shipper, *pprrrttt* some of weird feeling after I’ve write that word!!! Make me chills, kekeke~

At the first, I feel its really funny. How come, a drama can make me devote all my attention to the lead actor and actress just because I can not resist from their chemistry during drama and some of bts. And then proceed with a few clues that I got recently.
It felt strange, weird, unreal, and like not myself.

But this is beyond my control. I made ineffective. I fell in love with AhHa couple and in the deepest of my heart, there is a desire to see them become real a couple in their real life.
Have I crossed the line that I’ve should not be? My logic said: Yeah, this time I’ve crossed a line. But my heart said otherwise. Its really confused me ^^โ€œ

A drama should be a drama only, and is not a part in the drama of my own life!
A drama just for fun. Enjoy it. I have my own life apart from the real and drama!
But now it seems, have mingled with my real life and drama. Mix together. Ahha couple became a part of me that is difficult let go. Lee Seunggi and Ha Jiwon has entered into my heart and mind. I was really expecting both of them to be a real partner *sigh*.

I guess the romantic side in me has power over me that I was swept up in my own drama creations, kekeke~
Blame to TK2H coz too awesome!!! ๐Ÿ˜€

I do not even care about difference age between Lee Seunggi and Ha Jiwon! If they do in relationship, as long as they love each other and be happy, that’s enough for me.
Anyone can not predict the future. My only one hope is Lee Seunggi dan Ha Jiwon will be happy, together or not later.

I think these words are very suitable to describe how the relationship between Lee Seunggi and Ha Jiwon. I quote the words of the dialogue TK2H drama :

โ€œBach and Gounod were born in different places, in different times. That their music fits together like this, is amazing. Lee Seung Gi and Ha Ji won were born in different places, in different times. That their sizzling chemistry fits together like that, is amazing.โ€

๐Ÿ˜€

Posted with WordPress for BlackBerry.

Misaeng & Marriage Contract, deep thought of me

image

Dalam waktu dua yang berdekatan baru-baru ini ane nonton dua drakor. Anggap ane plin-plan atau cari-cari alasan karena selalu ngaku lebih suka dorama ketimbang drakor tapi untuk satu kali ini ada pengecualian. Ane selalu ga tahan nonton drakor yang punya awal cerita yang bagus tapi makin ke tengah dan akhirnya jadi berantakan dengan kata lain drakor yang ga punya cerita solid ga akan ane lirik lagi atau ane tinggal nontonnya, terlepas aktor atau penulis favorit ane sekali pun yang terlibat di dalamnya. Karena menurut ane jika ane tetap bertahan lihat sampai akhir itu sama aja buang-buang waktu. Nonton drama/film yang ga meninggalkan impact tertentu yang tentunya positif buat yang nonton itu sama aja ga ada manfaatnya.

Itulah sebabnya ane meninggalkan Descendant of the Sun. Mungkin selera ane ini antimainstream atau apa pun sebutannya, tapi alur cerita DotS membuat ane kehilangan minat untuk nonton drakor itu sampai habis. Euforia pesona kapten Yoo Shi Jin ga berhasil membuat ane bertahan. Kisah cinta di DotS juga ga membuat ane tergugah. Oke, drama ini punya kekuatan di dalam dialog-dialog para tokohnya. Itulah yang mula-mula menarik ane untuk melirik drama ini selain penulisnya tentunya. Kekuatan dialog-dialog itu yang mungkin membengkas di penonton. Dialog-dialog itu yang membuat para tokohnya dikenal dan disukai publik. Juga mungkin kekuatan akting pemainnya. Tapi secara keseluruhan, plot cerita yang menjadi inti dari sebuah drama, berantakan. Hal-hal janggal dalam cerita DotS yang sesungguhnya kurang bisa diterima akal mulai membuat ane ragu sampai akhirnya ane ga tahan dan menyerah di tengah-tengah. DotS kehilangan pesonanya di mata ane. Sama seperti busa sabun yang makin lama makin menghilang karena sinar matahari. Ceritanya ga meninggalkan bekas sama sekali, kecuali ost-nya mungkin.

Tapi, dalam kesempatan ini ane ga akan membahas DotS lebih lanjut lagi. Ane akan kembali ke awal bahasan tadi. Sebenarnya hal ini berlaku pula saat ane lihat dorama/film Jepang.  Kalau ceritanya udah melenceng ga karu-karuan niscaya ane tinggal. Pengecualian yang ane sebutkan tadi adalah dua drakor yang baru-baru ini ane lihat, yakni Misaeng dan Marriage Contract. Untuk kasus Misaeng, sebenarnya udah agak lama ane mendengar pendapat dari para viewer betapa bagusnya drama ini. Bisa dibilang ane cukup telat lihat drama ini karena walaupun sudah tahu pendapat yang bernada memuji dari para viewer tersebut, belum lagi daftar penghargaan yang diterima drama ini baik penghargaan lokal maupun internasional, kesempatan itu belum mampir ke ane. Sampai baru-baru ini. Entah apa yang membuat ane akhirnya mengambil keputusan melihatnya, mungkin rasa penasaran yang diam-diam menumpuk yang membuat ane akhirnya ga tahan lagi ingin membuktikan sendiri, benarkah Misaeng sebagus itu? Benarkah sebagus kata orang?

image

Dan akhirnya ane melihatnya sendiri. And YES! Misaeng is make my mind blew away completely. Such a wonderful dan heartwarming drama. Kekuatan ceritanya mulai dari episode pertama hingga akhir membuat ane berkali-kali menahan napas. Ane begitu berlarut mengikuti kisah kehidupan para tokoh di dalam drama ini, seolah-olah ane menjadi bagian di dalamnya juga. Cerita drama seperti yang ditawarkan Misaeng inilah yang ane cari-cari dari kesenangan menonton drama. Cerita yang menginspirasi, cerita yang menimbulkan efek positif bagi penonton, cerita yang membuat penontonnya berpikir bagaimana melakukan sesuatu yang lebih baik lagi dalam kehidupan nyata mereka. Bukan hanya adanya keterkaitan hubungan emosi yang terjalin di antara penonton dan cerita drama, dimana kita merasa ikut terlibat di dalamnya, tapi juga hal itu membuat kita memikirkan soal kehidupan diri kita sendiri. Bagaimana membuat kehidupan kita selanjutnya menjadi lebih baik dan bermakna. Well, Misaeng membuat ane seperti itu.

image

Sama halnya dengan Misaeng, Marriage Contract meninggalkan dampak yang hampir serupa buat ane. Mungkin hal itu terjadi karena kedua drama ini berusaha menggambarkan kehidupan para tokohnya senyata mungkin dari awal sampai akhir. Dan ane tahu hal itu tidaklah mudah. Konsistensi cerita dari kedua drama ini membuat ane berkali-kali kehilangan kata-kata. Gambaran kehidupan senyata dan sedetail mungkin yang diberikan drama ini seolah membuat jarak di antara penonton dan drama menghilang. Karena ceritanya masuk dalam logika kita, karena itulah yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, makanya kita ikut merasa terlibat dalam drama tersebut. Dramanya mungkin saja penuh dengan dialog omong kosong namun kehidupan yang coba digambarkan di dalamnya bukanlah omong kosong. Hal itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata kita. Karena itu, hati kita tergugah dan tersentuh.

Ane akan buat pengakuan. Dari pengalaman melihat kedua drama tersebut, tidak ada satu episode pun ane ga nangis. Mungkin ane yang terlalu sensitif makanya gampang banget mengeluarkan air mata tapi hati ane ga bisa bohong. Ane merasa ikut menjadi bagian dalam kedua drama tersebut makanya saat si tokoh A merasa gundah, ane ikutan gundah. Saat si tokoh B tertimpa kemalangan, ane merasa empati dan iba. Saat tokoh C bahagia, ane ikutan bahagia dan nyengir sendiri. Saat si tokoh D frustasi dan menangis, ane ikutan seperti dia, mewek sambil megang setumpuk tisu. Karena ceritanya membawa kehangatan di dalam diri ane. Ceritanya mungkin bohongan, karangan si penulis aja tapi emosi yang terlibat di dalamnya bukan bohongan karena apa yang coba digambarkan dalam drama tersebut adalah kehidupan nyata yang apa adanya, yang mungkin salah satu dari kita pernah mengalaminya sendiri. Karena drama yang kita lihat sesungguhnya adalah bagian dari drama kehidupan milik kita juga.
Itu dari segi cerita. Misaeng dan Marriage Contract punya kekuatan cerita seperti itu. Jangan tanya bagaimana akting para aktornya membawakan karakter yang mereka perankan. Atau directing-nya. Atau editingnya dan segi lainnya. Karena itu semua sudah mencakup keseluruhan drama tersebut. Pujian dari para viewer, cerita-cerita pengalaman mereka selama menikmati kedua drama ini, adalah bukti bagaimana kedua drama ini berhasil menyentuh hati mereka. Dan itu sudah cukup buat ente yang mengaku sebagai kdrama lovers tapi belum juga nonton kedua drama ini untuk memberi kesempatan pada kedua drama ini membuat ente terpukau luar dalam.

Kedua drama ini menawarkan sudut pandang cerita yang berbeda. Misaeng mencoba menggambarkan kehidupan suka duka pekerja kantoran di sebuah perusahan perdagangan multiinternasional. Bagaimana hubungan senior-junior di tempat kerja yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan nyata.

Marriage Contract, sesuai dengan judulnya pasti bisa nebak cerita drama ini seperti apa. Mungkin sebelum nonton sudah pesimis duluan kalau ceritanya bakal sama aja seperti cerita drama dengan tema sejenis. TAPI walau mungkin terdengar klise dan bisa ditebak bagaimana alur ceritanya, Marriage Contract punya pesonanya tersendiri yang membuat beda dengan drama tema sejenis. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana drama ini berusaha menghadirkan kisah kehidupan para tokohnya dari awal sampai akhir se-real mungkin sama dengan kehidupan nyata yang kita alami. Hal inilah yang jarang ane temui saat menonton drakor. Kegembiraan dan kesedihan yang dialami tokoh-tokohnya bukanlah kegembiraan dan kesedihan yang jauh dari jangkauan kita, jauh dari logika berpikir kita, melainkan sangat dekat, sesuatu yang kita kenal akrab karena kita sendiri pernah punya pengalaman yang serupa. Hal itulah yang membuat hati kita terasa familiar, terasa hangat. Menonton kedua drama berkualitas ini bukan hanya kesenangan semata yang didapat tapi juga sebagai media โ€˜healing’ diri kita agar bercermin dan berusaha melihat kehidupan kita sendiri dengan mata yang lebih positif.

Ane ga akan cerita panjang lebar lagi di sini. Silahkan buktikan sendiri, apakah pendapat ane dan orang-orang yang terlanjur tersihir kedua drama ini benar adanya atau tidak. Enjoy dan cobalah petik pelajaran yang ditawarkan kedua drama bagus ini.

Dorama – Sakamoto Yuji

Ane ga malu mengakui diri sebagai dorama-lovers. Jauh sebelum K-wave mewabah termasuk drama korea, ane telah jatuh hati dengan dorama. Sampai sekarang walau pilihan drakor semakin banyak dan menarik, dorama selalu punya tempat di hati ane ๐Ÿ™‚

Salah satu dorama berkualitas yang ane lihat baru-baru ini adalah Soredemo, Ikite Yuku (Fuji TV, 2011). Human drama yang dibintangi my love, Eita dan Mitsushima Hikari ini begitu berkesan. Kekuatan cerita dan akting yang menawan dari para aktor yang bermain di dalam drama ini bukan main-main. Sisi manusia yang begitu kental di dalam drama ini berhasil menggugah hati ane. Sebuah peristiwa tragedi masa lalu yang masih membayangi tokoh-tokohnya hingga ke kehidupan mereka sekarang.
Ane ga akan cerita panjang lebar seperti apa isi dorama yang berhasil memenangkan banyak award ini, well…silahkan googling sendiri untuk cari tahu lebih lanjut :p

Yang mau ane bahas di sini adalah soal SWnya, Sakamoto Yuji. Waktu ane iseng nyari info soal SW dorama Soredemo, Ikite Yuku, ane baru tahu kalo SW dorama ini sama dengan SWnya dorama klasik Tokyo Love Story (Fuji TV, 1991). Buat dorama-lovers veteran seperti ane ini, Tokyo Love Story adalah salah satu dorama klasik sepanjang masa. Tokyo Love Story menjadi salah satu list yang ‘wajib’ ditonton ulang/dikoleksi ๐Ÿ˜€

Siapa yang masih ingat bittersweet love story antara Akana Rika yang diperankan oleh Suzuki Honami dengan Nagao Kanji (Oda Yuji), lalu kisah cinta mereka menjadi semakin rumit dengan adanya tokoh Sekiguchi Satomi (Arimori Narimi) dan Mikami Kenichi (Eguchi Yosuke)? Siapa yang masih ingat ama ost dorama ini, Love Story wa Totsuzen ni by Kazumasa Oda?
Pantas saja ane merasa familiar saat mendengar ost dorama Soredemo, Ikite Yuku, ternyata Kazumasa Oda juga mengisi ost dorama ini dengan lagu Tokyo no Sora. Love it !!!

Dari list panjang karya Sakamoto Yuji, baru tiga yang (mungkin) ane lihat sampai detik ini. Dorama karyanya yang ketiga yang ane lihat adalah dorama tanpatsu Sayonara Bokutachi no Youchien (NTV, 2011) yang dibintangi aktris cilik berbakat Ashida Mana. Kisah mengharukan dan manis 5 orang anak TK yang melakukan perjalanan bersama tanpa orang dewasa demi menemui salah satu teman kelas mereka yang dirawat di RS luar kota.

Yang bisa ane tangkap dari ketiga drama karya Sakamoto-sensei yang pernah ane lihat sejauh ini, sisi manusia digambarkan tidak hanya memiliki dua sisi saja, gelap dan terang, melainkan digambarkan semanusiawi mungkin. Tidak ada formula yang pasti untuk menggambarkan karakter-karakter para tokoh yang ada di dorama karyanya namun bukan berarti karakterisasinya tidak jelas. Justru sebaliknya. Karyanya cukup detail dan menyentuh aspek kehidupan dengan gamblang, sederhana dan apa adanya. Ane yang melihat dorama karyanya bisa ikut merasakan kehangatan nilai-nilai soal hidup yang berharga dan hal ini membuat ane berpikir soal kehidupan.

Berikut sedikit informasi soal Sakamoto Yuji (sc: dramawiki).

Name: ๅ‚ๅ…ƒ่ฃ•ไบŒ (ใ•ใ‹ใ‚‚ใจใƒปใ‚†ใ†ใ˜)
Name (romaji): Sakamoto Yuji
Profession: Screenwriter
Birthdate: 1967-May-12
Birthplace: Osaka

TV Shows :

Saikou no Rikon (Fuji TV, 2013)
Makete, Katsu (NHK, 2012)
Soredemo, Ikite Yuku (Fuji TV, 2011)
Sayonara Bokutachi no Youchien (NTV, 2011)
Mother (NTV, 2010)
Chase (NHK, 2010)
Taiyo to Umi no Kyoshitsu (Fuji TV, 2008)
Ryokiteki na Kanojo (TBS, 2008)
Watashitachi no Kyokasho (Fuji TV, 2007)
Top Caster (Fuji TV, 2006)
Saiyuuki (Fuji TV, 2006)
Last Christmas (Fuji TV, 2004)
Itoshi Kimi e (Fuji TV, 2004)
Anata no Tonari ni Dareka Iru (Fuji TV, 2003)
Remote (NTV, 2002)
Renai Hensachi (Fuji TV, 2002)
Tsubasa wo Kudasai! (Fuji TV, 1996)
Hatachi no Yakusoku (Fuji TV, 1992)
Tokyo Love Story (Fuji TV, 1991)
Nippon-ichi no Kattobi Otoko (Fuji TV, 1990)
Dokyuusei (Fuji TV, 1989)

Recognitions :

70th Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter for Soredemo, Ikite Yuku
65th Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter for Mother
53rd Television Drama Academy Awards: Best Screenwriter for Watashitachi no Kyokasho

Posted with WordPress for BlackBerry.